Perubahan iklim telah menjadi salah satu tantangan serius bagi pembangunan ekonomi dunia, khususnya negara-negara yang mengandalkan sektor pertanian sebagai penopang industri. Fenomena El Niño yang kembali menguat pada 2026 memberikan gambaran bagaimana perubahan kondisi iklim dapat mengancam ketahanan pangan, produksi komoditas, dan keberlanjutan rantai pasok industri.
Thailand merupakan salah satu negara yang menghadapi ancaman tersebut. Sebagai produsen dan eksportir utama produk singkong dunia, Thailand memiliki industri pengolahan tapioka yang berkembang pesat. Namun, industri tersebut menghadapi persoalan serius berupa menurunnya produksi singkong domestik, keterbatasan bahan baku, serta meningkatnya kerentanan terhadap kekeringan dan penyakit tanaman.
Persoalan ini menjadi semakin penting ketika El Niño kembali berkembang pada pertengahan 2026 dan diperkirakan menguat hingga awal 2027. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa krisis bahan baku singkong yang telah berlangsung beberapa tahun dapat semakin memburuk.
El Niño 2026: Ancaman Iklim yang Semakin Nyata
Berdasarkan laporan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), El Niño kembali terbentuk sekitar Mei–Juni 2026. Pada 11 Juni 2026, NOAA mengonfirmasi bahwa kondisi El Niño telah berkembang, dengan anomali suhu permukaan laut di wilayah Niño 3.4 mencapai +0,7°C.
Perkembangannya semakin mengkhawatirkan pada Oktober 2026. Dalam laporan 8 Oktober 2026, NOAA mencatat bahwa anomali suhu permukaan laut di wilayah Niño 3.4 telah meningkat menjadi +2,1°C, sementara beberapa bagian Pasifik ekuatorial timur mengalami anomali melebihi +4°C.
NOAA juga memperkirakan peluang sebesar 83 persen terjadinya El Niño dengan kekuatan berpotensi melampaui rekor historis pada periode Oktober–Desember 2026. Kondisi El Niño kuat hingga sangat kuat diperkirakan berlanjut sampai Januari–Maret 2027.
Kondisi tersebut menjadi ancaman bagi pertanian Thailand karena El Niño dapat mengurangi curah hujan dan meningkatkan suhu udara pada wilayah tertentu.
Ancaman itu mulai terlihat melalui data pengamatan cuaca Thailand.
Menurut Thai Meteorological Department (TMD), curah hujan rata-rata Thailand pada Agustus 2026 tercatat 17 persen lebih rendah dibandingkan kondisi normal. Di wilayah timur laut Thailand, yang merupakan salah satu sentra produksi singkong, curah hujan berada sekitar 7 persen atau 17,7 milimeter di bawah normal. Pada saat yang sama, suhu rata-rata nasional tercatat 0,4°C di atas normal.
Meskipun demikian, beberapa wilayah Thailand tetap mengalami hujan lebat dan banjir akibat dinamika monsun serta badai tropis. Artinya, El Niño tidak menyebabkan seluruh wilayah Thailand mengalami kekeringan secara bersamaan.
Data kerugian pertanian juga mulai menunjukkan adanya tekanan iklim. Berdasarkan laporan bencana pertanian Thailand untuk periode 1 April–9 Juli 2026, kekeringan telah memengaruhi 8.646 rai lahan pertanian di lima provinsi dan berdampak pada 4.453 petani.
Angka tersebut mencakup berbagai komoditas pertanian, bukan khusus tanaman singkong. Namun, data ini menunjukkan bahwa gangguan kekeringan pada 2026 bukan sekadar kemungkinan berdasarkan prakiraan iklim, melainkan sudah tercatat di sejumlah wilayah.
Penurunan Produksi Singkong dan Krisis Bahan Baku Thailand
Krisis produksi singkong Thailand sebenarnya telah terjadi sebelum El Niño 2026 berkembang.
Data National Statistical Office Thailand menunjukkan bahwa produksi singkong mencapai 34,07 juta ton pada 2022, kemudian menurun menjadi 30,62 juta ton pada 2023 dan 28,62 juta ton pada 2024. Dalam dua tahun, produksi berkurang hampir 16 persen.
Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa persoalan tersebut belum terselesaikan.
Berdasarkan publikasi Office of Agricultural Economics (OAE) Thailand pada Juni 2026, produksi singkong musim 2025/2026 diperkirakan mencapai 24,186 juta ton, menurun sekitar 10,23 persen dibandingkan musim sebelumnya yang mencapai 26,941 juta ton.
Luas panen diperkirakan turun 7,28 persen, sedangkan produktivitas lahan turun 3,19 persen. Data tersebut memperlihatkan bahwa berkurangnya produksi bukan hanya disebabkan penyusutan lahan, tetapi juga penurunan hasil per satuan luas.
Thailand Development Research Institute (TDRI) dalam kajian Agustus 2026 bahkan melaporkan produksi musim 2025/2026 sekitar 23 juta ton, disertai penyusutan luas panen menjadi sekitar 7,6 juta rai.
Perbedaan angka OAE dan TDRI menunjukkan adanya variasi estimasi serta metode pencatatan. Keduanya tetap memperlihatkan kecenderungan yang sama, yaitu melemahnya kemampuan produksi singkong Thailand.
Namun, terdapat hal penting yang perlu diperhatikan secara ilmiah. Menurut OAE, sekitar 56,09 persen produksi singkong musim 2025/2026 memasuki pasar pada Januari–Maret 2026, sebelum El Niño 2026 terbentuk. Penurunan tersebut juga merupakan dampak lanjutan dari gangguan iklim sebelumnya, penyakit tanaman, berkurangnya luas tanam, dan persoalan produktivitas.
El Niño 2026 justru menjadi ancaman tambahan terhadap pemulihan produksi, terutama untuk tanaman yang memasuki fase pertumbuhan pada akhir 2026 hingga 2027.
Dampak terhadap Rantai Pasok dan Industri Tapioka
Penurunan produksi singkong memberikan dampak berantai terhadap perekonomian Thailand.
Rantai pasok singkong dimulai dari petani, pedagang pengumpul, transportasi, industri pengolahan, hingga distribusi produk ke pasar domestik dan internasional.
Ketika hasil panen berkurang, pasokan umbi segar kepada industri menjadi tidak stabil. Pabrik tapioka yang membutuhkan bahan baku secara berkesinambungan menghadapi risiko penurunan aktivitas produksi.
Menurut Krungsri Research (2025), sekitar 68,8 persen pasokan bahan baku industri singkong Thailand pada 2024 berasal dari produksi domestik, sedangkan 21,5 persen diperoleh melalui impor dan 9,7 persen berasal dari persediaan sebelumnya.
Ketergantungan terhadap produksi domestik tersebut menyebabkan gangguan panen dapat langsung memengaruhi kegiatan industri.
Dampaknya terlihat dari penurunan tingkat pemanfaatan kapasitas industri singkong, dari sekitar 58 persen pada 2021–2022 menjadi sekitar 51 persen pada 2023–2024.
TDRI (2026) juga melaporkan bahwa kombinasi kekeringan, penyakit mosaik singkong (cassava mosaic disease), dan ketidakpastian pasokan dari negara tetangga telah menyebabkan beberapa industri pati dan tepung singkong menghentikan operasi sebelum akhir musim pengolahan.
Selain produksi, perdagangan mulai menunjukkan tekanan. Analisis LH Bank pada Juni 2026 mencatat bahwa nilai ekspor produk singkong Thailand selama Januari–Maret 2026 turun sekitar 19 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan ekspor tersebut tidak dapat dianggap semata-mata akibat El Niño karena perubahan harga dan persaingan perdagangan internasional juga memengaruhi kinerja ekspor.
Ancaman El Niño terhadap Produksi Singkong 2027
Perhatian utama saat ini bukan hanya pada penurunan produksi yang telah terjadi, tetapi juga pada kemungkinan terganggunya pemulihan rantai pasok pada 2027.
Japan International Research Center for Agricultural Sciences (JIRCAS), dalam kajian yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, secara khusus mengidentifikasi wilayah timur laut Thailand sebagai kawasan pertanian yang rentan terhadap El Niño karena tingginya ketergantungan pada curah hujan.
JIRCAS menegaskan bahwa kombinasi kekurangan air dan penyakit mosaik singkong dapat semakin mengurangi produksi serta mengganggu pasokan bahan baku industri.
Ancaman tersebut perlu diperhatikan karena tanaman singkong membutuhkan kecukupan air, terutama pada tahap awal pertumbuhan.
Apabila El Niño kuat berlanjut hingga awal 2027 dan menyebabkan berkurangnya curah hujan di sentra produksi, produktivitas singkong berpotensi kembali mengalami tekanan.
Situasi ini dapat menciptakan persoalan berulang: petani mengalami penurunan hasil, industri kekurangan bahan baku, kapasitas pengolahan tidak dimanfaatkan secara optimal, dan daya saing produk Thailand menghadapi tekanan.
Namun, besarnya kerugian produksi singkong akibat El Niño 2026–2027 belum dapat dipastikan karena membutuhkan data hasil panen serta kondisi iklim lokal pada musim berikutnya.
Pelajaran bagi Pembangunan Pertanian dan Industri
Krisis singkong Thailand memberikan pelajaran penting bahwa pembangunan industri tidak cukup hanya bertumpu pada peningkatan kapasitas pengolahan.
Keberhasilan hilirisasi harus didukung oleh kemampuan menjaga keberlanjutan produksi komoditas pertanian.
Pemerintah Thailand perlu memperkuat sistem peringatan dini iklim, mengembangkan varietas singkong yang adaptif terhadap kekeringan dan tahan penyakit, meningkatkan produktivitas lahan, serta membangun kemitraan yang lebih kuat antara petani dan industri.
El Niño 2026 memperbesar ancaman terhadap keberlanjutan produksi dan rantai pasok singkong Thailand yang sebelumnya telah mengalami tekanan akibat kekeringan, penyakit tanaman, dan penyusutan luas panen.
Data empiris memperlihatkan bahwa produksi singkong Thailand diperkirakan turun sekitar 10,23 persen pada musim 2025/2026. Sementara itu, curah hujan nasional pada Agustus 2026 berada 17 persen di bawah normal, dan NOAA mengonfirmasi bahwa El Niño semakin menguat pada Oktober 2026.
Walaupun penurunan produksi musim 2025/2026 tidak sepenuhnya disebabkan El Niño 2026, perkembangan iklim terbaru menunjukkan adanya risiko tambahan terhadap musim produksi berikutnya.
Pelajaran utama dari kasus Thailand adalah bahwa krisis rantai pasok tidak selalu dimulai dari kegagalan industri, tetapi dapat berawal dari terganggunya kemampuan sektor pertanian menyediakan bahan baku akibat perubahan iklim.
Oleh karena itu, ketahanan iklim, produktivitas pertanian, dan keberlanjutan rantai pasok harus menjadi bagian integral dari strategi pembangunan ekonomi dan industri.
Catatan akademik: Tulisan ini Berbasis Data Empiris 2022–2026

