Rabu, 28 Desember 2016

TOLE....RANSI, TOLERAN...SI ATAU TOLERANSI

Akhir-akhir ini kita sering mendengar kata-kata toleransi. Sebut saja “Sosok Abdurrahman Wahid atau Gus Dur tak asing dengan gagasan toleransi antarumat beragama, bagi Indonesia dan dunia, sosok Presiden keempat RI itu nomor wahid bila berbicara soal toleransi”(http://megapolitan.kompas.com/read/2016/12/24/08214381/merindukan.toleransi.gus.dur). Atau “Sekarang ini di Indonesia isu agama menjadi hal paling sensitif untuk dibicarakan dalam ranah publik. Sebabnya, masih banyak masyarakat yang kurang memahami arti toleransi dalam beragama” (https://www.merdeka.com/dunia/cerita-cerita-toleransi-paling-menggugah-hati-damaikan-bumi.html).
Kata tersebut terdengar seksi untuk dipergunakan dalam spanduk maupun tema-tema kegiatan. Ada yang bertanya, sebenarnya apa itu toleransi. Lalu mengapa perlu toleransi dan ujung-ujungnya mengapa toleransi tidak bisa dilaksanakan sehingga hanya menjadi simbol-simbol ilmiah. Toleransi sendiri berasal dari kata tole, yang dalam bahasa jawanya berarti adik. Lalu diberi akhiran ansi agar kesan ilmiahnya muncul. Dengan demikian toleransi berarti adik yang......(tidak jelas). Oh tidak, ini namanya penyesatan. Ada pasal yang mengatur tentang penyesatan dan penulis takut dikenakan pasal tersebut.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata toleransi berarti sifat atau sikap toleran; batas ukur untuk penambahan atau pengurangan yang masih diperbolehkan; penyimpangan yang masih dapat diterima dalam pengukuran kerja. Sedangkan menurut Wikipedia, Toleransi adalah membiarkan orang lain berpendapat lain,melakukan hal yang tidak sependapat dengan kita, tanpa kita ganggu ataupun intimidasi. istilah dalam konteks sosial, budaya dan agama yang berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam suatu masyarakat. Contohnya adalah toleransi beragama, di mana penganut mayoritas dalam suatu masyarakat menghormati keberadaan agama atau kepercayaan lainnya yang berbeda.
Begitu indahnya kata toleransi jika kita sama-sama mengetahui artinya dan mengamalkannya. Seharusnya kita kembali kemasa-masa sekolah dulu (tepatnya Sekolah Dasar), dimana kita diajarkan untuk saling toleransi. Namun seiringnya waktu, nilai-nilai luhur tersebut terdegredasi. Miris rasanya jika kita merfleksi masa-masa dulu, disaat negara Indonesia terkenal dengan negara yang menjunjung tinggi sikap toleransi dalam sendi-sendi kehidupan. Tampaknya dengan kondisi ini kita perlu kembali belajar di Sekolah Dasar atau belajar dari anak-anak kita yang masih mengenyam pendidikan di level tersebut. Semoga nilai-nilai kepribadian bangsa itu bisa kita pupuk dan kembangkan dikehidupan yang akan datang.

Jumat, 23 September 2016

MENANTI KEJUTAN GUBERNUR DKI 2017


Berbicara mengenai pilkada di DKI memang menarik untuk dikomentari. Beberapa waktu lalu peta perpolitikan di ibu kota Negara tersebut cenderung stagnan dan membosankan. Hanya ada pro Ahok dan Kontra Ahok yang menghiasi media. Akan tetapi menjelang injury time,  sejumlah partai politik mulai sprint menentukan haluan. Bukan tanpa alasan,  pendaftaran para bakal calon kepala daerah dan wakil kepala daerah akan ditutup tanggal 24 September. Efektif hanya 4 hari bagi partai politik untuk memggodok para patarungnya dalam pesta rakyat yang akan diselenggarakan serentak tersebut.

Sejumlah nama memang sudah sering digadang untuk maju menjadi DKI 1. Sebut saja petahana yang semula kasak kusuk ngotot melalui jalur independen dan seolah meninggalkan Wakil nya.  Lalu sikap santai yang ditunjukkan Djarot dari kubu PDIP. Setelah itu sikap cool dari Walikota Surabaya yang bertahan agar tetap di Surabaya.  Ada juga pentolan PKS,  Adhyaksa Dault yang sering bersafari politik kebeberapa tokoh, dan pakar hukum tata negara Yusril Ihza Mahendra serta  kader Gerindra yang juga pengusaha muda sudah sering mewarnai berita diberbagai media.

Tampaknya bongkar pasang dan simulasi calon sudah sering mengalami kegagalan.  Seperti PDIP yang semula ogah untuk mencalonkan petahana, dan gagal mendatangkan Risma ke DKI.  Di luar nama Risma tentu tidak ada kader lain yang mumpuni menandingi ahok.  Sedangkan secara hitung-hitungan politik untuk memunculkan Djarot sebagai orang nomor satu sangat riskan. Namun dengan pertimbangan lain oleh elit PDIP kembali menduetkan Ahok Djarot sebagai jalan menuju kemenangan walau keputusan ini menyakiti perasaan beberapa kader PDIP. Tampak nya PDIP ogah kalah dan enggan berspekulasi di pertarungan DKI,  sebab bisa saja dengan mayoritas suara di parlemen DKI bisa mengusung calon sendiri. Setelah koalisi kekeluargaan gagal dibangun,  peta perpolitikan berubah cepat dan dinamis.  Sesuai dengan prediksi banyak orang bahwa koalisi kekeluargaan untuk membendung Ahok tidak akan berjalan.  Pecahnya suara pasca PDIP memilih ahok Djarot akibat dari usulan masing masing parpol untuk menentukan kandidat.  Mulai dari simulasi Sandiaga dengan sekda DKI.  Sandiaga dan tokoh PKS Mardani Ali dan beberapa nama lain tidak menunjukkan satu suara.

Kebuntuan komunikasi para elit parpol kembali di tengahi oleh ketokohan mantan Presiden keenam Indonesia. Muncul nama yang sangat mengejutkan di luar partai politik walaupun Agus adalah anak dari ketua partai politik.  Namun pertaruhan yang dilakukan oleh Agus adalah bentuk perjudian yang luar biasa berani mengingat karirnya yang sangat moncer di dunia militer. Dengan prestasi yang diukir Agus Harimurti Yudhoyono, bukan tidak mungkin kelak akan menjadi komandan strategis di Angkatan Darat khususnya maupun TNI umumnya.

Namun di luar itu semua,  kembali tampak ketokohan SBY sebagai central figure Partai Demokrat dan beberapa partai di luar PDIP teruji dengan menyatukan poros cikeas. Akan ada pertempuran besar di pilkada DKI yaitu poros Megawati dan poros  SBY yang rivalitasnya begitu mendominasi perpolitikan nasional. Pilkada DKI semakin menunjukkan timur barat nya antara Megawati dan SBY walaupun ada calon lain dari Gerindra dan PKS.

Jika koalisi Cikeas bisa memenangkan pertarungan,  ini bisa menjadi langkah awal bagi Agus menuju kancah nasional.  Seperti jejak yang ditorehkan Presiden Jokowi untuk menjadikan Jabatan Gubernur DKI menuju Kursi Presiden. Tentunya bagi demokrat kembali menjadi modal berharga menuju zaman keemasan seperti yang ditorehkan era SBY selama menjadi Presiden. Agus pun tidak harus menunggu menjadi Jenderal untuk menaungi para Jenderal. Namun jika gagal,  Agus harus memulai dari awal menuju perpolitikan nasional dan Demokrat harus memupuk aset terbaiknya tersebut untuk masa akan datang dan menunda periode gemilangnya.

Selasa, 02 Agustus 2016

RAKOR KECAMATAN SUNGKAI JAYA

Kegiatan rapat kordinasi tingkat kecamatan Sungkai Jaya dilaksanakan pada hari selasa,  2 Agustus  2016 bertempat di ruang aula kecamatan Sungkai Jaya. Tampak hadir pada rakor tersebut Camat Sungkai Jaya,  Sekcam,  Kepala Pos Polisi, Kepala  KUA, KUPT.  Dinas/ Badan se Kecamatan,  Kasi dan Kasubbag  Kecamatan, Kepala Desa dan Sekdes dan Para Kepala Sekolah. 
Dalam sambutan nya,  Camat menitik beratkan pada kegiatan menyambut HUT RI ke 71 yang memerlukan dukungan dan partisipasi dari pelaku pembangunan di Kecamatan.  Selain itu dihimbau kepada Kepala Desa agar membersihkan lingkungan dan memasang umbul-umbul guna menambah kemeriahan pesta kemerdekaan. 
Antusias para peserta rakor dapat dilihat dari pertanyaan yang tidak terbatas pada persiapan HUT RI.  Beberapa peserta juga menanyakan masalah kamtibmas dan proses administrasi pernikahan serta masalah kesehatan. 




Senin, 01 Agustus 2016

SOSIALISASI UNDANG-UNDANG PERLINDUNGAN ANAK

Kejaksaan Negeri Kotabumi memberikan sosialisasi Undang-undang perlindungan anak di Smu  negeri 1 Sungkai Jaya. 
Acara tersebut di buka oleh kepala sekolah smun 1, tampak hadir dalam kegiatan Kasi intel kejari Kotabumi beserta staf,   sekcam Sungkai Jaya dan perwakilan Dinas pendidikan kabupaten Lampung Utara. 
Kegiatan yang dilaksanakan pada hari senin,  1 Agustus  2016 tersebut diharapkan dapat memberikan pencerahan kepada peaerta didik yang nota bene adalah anak -anak tentang perlindungan negara terhadap mereka. 

Sabtu, 04 Juni 2016

DISTRIBUSI KARTU INDONESIA PINTAR

Pemerintah Pusat telah mendistribusikan Kartu Indonesia Pintar di Kecamatan Sungkai Jaya pada hari Rabu 1 Juni 2016. Kartu tersebut disampaikan oleh pihak penyedia jasa distribusi langsung kepada 9 Kepala Desa yang ada di wilayah Kecamatan Sungkai Jaya.

Dengan dibanginya Kartu tersebut, diharapkan agar penerima manfaat segera melaporkan kepada sekolah masing-masing guna aktivasi. Dan tidak menutup kemungkinan, ada beberapa kartu yang tidak dapat digunakan dengan alasan pemilik kartu tidak sebagai pelajar lagi.



Data Jumlah Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kecamatan Sungkai Jaya

NO
DESA
SD
SMP
SMA
SMK
1
SUKA JAYA
81
41
10
20
2
CEMPAKA BARAT
61
56
20
14
3
CEMPAKA
106
78
27
13
4
NEGARA AGUNG
85
39
28
25
5
CEMPAKA TIMUR
46
36
19
10
6
SRI JAYA
68
62
23
21
7
CAHAYA MAKMUR
125
93
14
42
8
LEPANG TENGAH
61
55
20
12
9
SRI AGUNG
83
64
33
27

Jumlah
716
524
194
184

Total
1.618